This is my personal notes on my journey through my life..

Monday, January 17, 2005

Pikiran Rakyat, 15 Januari 2005

Video Amatir dan Terbukanya Kanal Informasi
Oleh ASKURIFAI BAKSIN

MUSIBAH bom Bali beberapa waktu lalu hingga kini masih membekas di benak kita. Tidak hanya pemberitaannya yang begitu gencar tapi juga karena kontribusi masyarakat dalam mendukung tayangan berita seputar tragedi kemanusiaan tersebut. Video amatir yang waktu itu ditayangkan stasiun SCTV menjadi saksi sekaligus penguat berita yang bersangkutan. Video amatir tersebut secara sengaja dikerjakan oleh seorang pria yang sedang bulan madu dengan istrinya. Menurut penuturannya, meskipun istrinya dalam kondisi panik karena bom yang mengguncang tersebut begitu dahsyat tapi dia tetap melakukan perekaman gambar.

Peristiwa berikutnya yang tak kalah menarik adalah kasus meninggalnya salah seorang praja Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Bandung. Awalnya berita kasus STPDN tidaklah menggemparkan, tapi ketika pihak SCTV menampilkan rekaman video amatir yang disampaikan seseorang, berita yang awalnya biasa saja berubah menjadi luar biasa.

Menurut reporter SCTV Indiarto Priadi, beberapa rekaman video amatiran tersebut merupakan sumbangsih dari masyarakat. Meskipun demikian pihaknya memberikan sekadar ongkos ganti kaset untuk menghargai kerja video amatir.

Selain itu kasus bom Kuningan juga ditunjang penampilan video amatir, yakni dengan tampilan rekaman dari CCTV (Closed Circuit Television) pengelola gedung yang terkena bom. Meskipun secara visual rekaman tersebut kurang begitu jelas tapi para penonton merasa puas, mengingat video amatir ini menjadi saksi kejadian sebelum bom menyalak di gedung tersebut.

Kasus terakhir ditayangkan Metro TV (29/12), yakni berita musibah nasional gempa tektonik dan gelombang tsunami di Aceh dan sekitarnya. Selama tiga hari kita disuguhi gambar-gambar video berita yang diulang-ulang atau kondisi saat ini yang diliput para awak tv, setelah tsunami mengamuk dan menghancurkan beberapa wilayah di Aceh. Tiba-tiba kita tercekam ketika Metro menampilkan video amatir yang dibidik Cut Putri, yakni keponakan Kepala Humas Polda NAD, Kombes Sayyed Huseini. Belakangan ditemukan perwira polisi ini juga meninggal ditelan gelombang tsunami. Rekaman menjelang dan saat terjadi gelombang tsunami yang merenggut puluhan ribu warga Aceh berhasil menghadirkan suasana saat gelombang besar menggenangi Banda Aceh. Tak kurang untuk mengulas tampilan video amatir tersebut dihadirkan Garin Nugroho untuk membahas.

Di tempat lain video amatir juga meningkahi berita bencana tsunami di Thailand. Di sana pun seorang turis berhasil merekam bagaimana gelombang tsunami menggulung daerah pantai Phuket, tak beda jauh dari pemandangan di Aceh.

Begitu hebatkah video amatir dalam mendukung berita-berita tv yang sering dibuat para awak stasiun tv?

Menurut Garin, video amatir merupakan saksi hidup dari setiap peristiwa atau kejadian yang sengaja dibuat. Hasil rekamannya merupakan transformasi dirinya terhadap peristiwa yang disaksikan secara riil di lapangan. Dalam kondisi yang sama ketika seseorang mengalami suatu bencana ada dua keinginan; menolong sesama atau mendokumentasikan. Dua-duanya punya nilai sama. Sama seperti seorang juru kamera berita. Jika dalam kondisi tertentu dia harus memilih antara menolong korban atau merekamnya. Jika menolong momen akan hilang, sementara jika merekamnya mungkin ada yang menganggap kurang manusiawi. Padahal kedua pilihan itu punya keunggulan sendiri-sendiri.

Sama dengan kejadian bom Bali dan bencana di Aceh. Juru kamera bom Bali bisa saja sibuk menolong para korban. Tapi dia memilih untuk merekamnya, meskipun dengan hati waswas. Cut Putri juga tak kalah waswas. Bayangkan, di depan mata dia melihat sendiri bagaimana gelombang tsunami menyapu bersih segala yang ada di jalanan. Namun dengan tetap tenang Putri justru mengabadikannya terus. Bahkan sampai ada rekaman seseorang yang tersangkut di rumahnya dan minta tolong. Juga ketika keluarganya mengais bangkai bangunan terlihat mayat bergelimpangan. Tapi dia tetap merekamnya.

Revolusi teknologi

Beberapa kasus tersebut memperlihatkan bahwa video amatir, yakni tampilan audio visual yang direkam oleh orang biasa, punya kontribusi besar terhadap berita tertentu. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, masyarakat kita memang belum punya hobi video. Orang Indonesia akan mendokumentasikan hal-hal yang bersifat seremonial, bukan pada hal-hal biasa. Berbeda dengan orang-orang di negara maju yang memiliki kebiasaan mendokumentasikan apa saja. Maka, muncullah acara-acara reality show yang materinya merupakan kiriman dari para videomaker amatir.

Selain itu di beberapa negara asing masyarakat dijadikan sebagai mitra informasi. Sudah lama mereka mengenal lembaga yang disebut news agency, yakni masyarakat yang berusaha membuat rekaman video berita untuk dijual kepada sebuah stasiun tv. Tak heran kini banyak masyarakat kita yang mencoba membuat berita dan dijual ke kantor berita asing (kantor berita dalam negeri sementara belum menerima).

Di negara kita, berita tv masih dianggap begitu "keramat" atau istimewa, sehingga tidak ada satu pun warga yang bisa membuat berita karena secara kelembagaan berita hanya milik awak tv. Akibatnya, masyarakat kita tidak memiliki budaya membuat berita amatir. Padahal, kalau mau jujur, sebuah stasiun tv tidak mungkin bisa meng-cover semua peristiwa di sebuah wilayah, karena keterbatasan personil. Padahal video amatir yang ditunjukkan oleh beberapa stasiun tersebut nyata sekali sangat memberikan gambaran riil di lapangan. Kondisi ini yang membuat penumpukan informasi. Ini terbukti dari banyaknya tayangan berita di stasiun tv yang hanya mengekspose peristiwa di kota-kota besar dan sebagian kecil kota lainnya. Hanya tempat-tempat yang ada kontributornya yang ter-cover berita. Lainnya tidak. Kondisi ini menunjukkan tidak adanya pemerataan peliputan berita.

Fenomena video amatir menjadi saksi, berita merupakan dampak dari revolusi teknologi. Jika kita runtut, kemajuan teknologi kamera awalnya dimonopoli kamera film dengan seluluidnya (8mm, 16mm, 35mm, 65mm). Kamera film ini selain harganya tinggi juga bentuknya besar dan berat. Maka munculah ENG (Electronic News Gathering) yang kini banyak dipakai untuk meliput berita. ENG ini juga mengalami evolusi, dari bentuknya yang analog dan besar serta mahal menjadi digital, kecil, dan murah. Sebuah kamera MDV handycam harganya hanya 4-6 juta rupiah. Dengan harga relatif bisa terjangkau, masyarakat mudah memiliki dan mampu merekam banyak kejadian.

Selain itu, kini beredar HP yang dilengkapi kamera. Dalam berita seputar bencana Aceh kita juga menyaksikan ada beberapa gambar yang diambil dengan HP. Itu semua memperkuat bahwa saat ini masyarakat sudah mulai menghargai dokumentasi dengan cara merekamnya menggunakan peralatan yang dimiliki. Apalagi dalam pakemnya gambar visual berita tv tidak perlu memperhatikan aspek sinematik, tapi lebih pada penampakan dan momen saja. Sejauh visual berita masih bisa dilihat dan dimaknai, tidak masalah. Karena pada dasarnya visual dalam berita merupakan berita itu sendiri. Selama gambar berita sudah bisa bercerita maka tak ada masalah. Jadi, perihal apakah gambar berita diambil dengan kamera analog, digital, handycam, miniDV, atau DVCam tidak jadi soal.

Realitas sosial

Prof. Deddy Mulyana menyebutkan, jika menyoal berita tak bisa lepas dari realitas sosial yang dikemukakan Dahlgren (1991: 192). Menurut pandangan fenomenologis, realitas sosial, setidaknya sebagian, merupakan produk manusia, hasil proses budaya, termasuk penggunaan bahasa. Makna adalah suatu konstruksi, meskipun terkadang rentan dan muskil, dan salah satu cara mendasar kita dalam menghasilkan makna mengenai dunia nyata adalah lewat narasi (media massa).

Peristiwa-peristiwa yang ditangkap media massa, berita sekalipun, jelas bukan peristiwa sebenarnya, baik dilihat dari urutannya ataupun durasinya. Narasi media massa merupakan seleksi peristiwa yang sudah direproduksi dalam bentuk artifisial. Narasilah yang menghubungkan peristiwa sebenarnya dengan khalayak. Dan narasi tidak sekadar menyampaikan, melainkan juga menciptakan makna. Adegan-adegan tertentu yang dipilih media massa untuk pihak-pihak tertentu jelas merupakan salah satu pendefinisian untuk menciptakan realitas baru mengenai peristiwa atau orang yang didefinisikan. Narasi di sini meliputi bukan hanya bersifat fiksi ataupun jurnalistik, bahkan juga semua narasi yang diklaim sebagai "objektif" seperti dalam konteks hukum, medis, atau ilmiah-sosial.

Sama halnya yang dicontohkan Arswendo. Tatkala NBC memunculkan gambar Wali Kota John Lindsay memasuki daerah ghetto New York, empat hari setelah keributan besar dengan terbunuhnya Martin Luther King Jr, 4 April 1968. Lindsay digambarkan bersalaman dan bisa mendekati "daerah ganas". Jagoankah Lindsay? Ya, yang tampak di layar televisi. Kenyataannya, untuk ke daerah tersebut, ia dikawal puluhan pengawal pribadi yang bersenjata lengkap dan garang. Itu tak diperlihatkan di layar (Eipstein, halaman 21-24).

Jika diambil benang merahnya, berita televisi bisa saja sungguh-sungguh, pura-pura, atau dimanipulasi. Sebab dengan teknologinya televisi memang sanggup melakukan itu semua. Perusahaan televisi CBS, di tahun 1968 menyajikan Hunger in America. Seorang bayi kelewat kurus, bayi yang tidak normal dengan napas satu-satu. Penyembuhannya dilakukan di rumah sakit, tapi bayi itu meninggal. Semua tampak di layar, sementara penyiar Charles Kuralt yang menjadi narator berkata, "Kelaparan mudah dikenali seperti yang kita lihat ini. Bayi itu meninggal karena kelaparan. Dan itu adalah bayi Amerika. Bayi yang sekarang ini menjadi mayat."

Adegan yang menggetarkan ini hanyalah hasil teknologi televisi dan orang-orang di belakangnya. Bayi yang mati kelaparan, sebenarnya bayi biasa. Yang memang lahir prematur dan beratnya kurang dari 1,5 kg. Ibunya, seorang guru sekolah, memang miskin, tapi bukan kelaparan. Bayi itu lahir prematur karena si ibu mendapat kecelakaan waktu naik mobil (Atmowiloto, 1986:43).

Sebagai narasi, berita tv memang sering mengalami kekurangan. Itulah sebabnya, kanal-kanal informasi di masyarakat, salah satunya penayangan video amatir, menjadi alternatif dalam memperteguh suatu berita. Terjadinya kesenjangan antara masyarakat dengan stasiun tv karena kanal-kanal informasi ini tidak dibuka lebar. Hanya pada peristiwa-peristiwa yang menghebohkan saja tampaknya stasiun tv mau bermitra dengan masyarakat. Selebihnya tidak.

Untuk itulah kehadiran video amatir di beberapa pemberitaan yang menghebohkan hendaknya menjadi tonggak bagi munculnya kemitraan antara masyarakat dengan stasiun tv. Apalagi berdasarkan Undang-undang Penyiaran tahun 2003 yang mengamanatkan mulai tahun 2005 akan bermunculan beberapa stasiun tv lokal yang siaran informasinya kental dengan muatan lokal. Dalam kondisi ini, masyarakat seharusnya berpartisipasi aktif dalam menyokong pemberitaan tv dalam bentuk pengiriman video amatir berita. Mungkin sebagian masyarakat tidak menguasai teknik membuat script berita, tapi dengan tampilan gambar video dan keterangan langsung dari para saksi cukup mendukung sebuah berita tv.

Seperti yang diungkap Prof. Deddy, realitas kebenaran berita tv bisa saja termanipulasi karena sudah melewati proses editing. Kecanggihan editing merupakan pengaruh teknologi yang dimiliki stasiun tv, seperti yang pernah terjadi di Amerika. Tapi masyarakat sebagai mitra informasi, tatkala merekam video amatir masih asli, tanpa melewati usaha manipulasi. Maka yang tampak pada beberapa video amatir adalah "kepolosan" gambar karena tanpa rekayasa. Pada koridor inilah video amatir punya keunggulan narasi. Dia tidak termanipulasikan oleh peralatan editing. Menurut saya, inilah yang diperlukan masyarakat dalam kontribusinya sebagai mitra informasi. Karena dalam posisi ini video amatir menjadi saksi hidup dari setiap peristiwa berita.

Gagasan untuk membuka kanal-kanal informasi masyarakat seharusnya menjadi pemikiran semua pihak. Dengan pastisipasi masyarakat dalam menunjang pemberitaan di stasiun tv akan membuka cara berpikir masyarakat dalam menerima tayangan di stasiun tv, sebab selama ini mereka begitu pasif. Apa pun yang disuguhkan tv publik seolah diam saja. Di antaranya karena media watch yang dulu pernah digembar-gemborkan kini tak nyaring. Untuk itu menurut salah satu anggota KPI Jabar, DR. Atie Rachmiatie, kini sedang digalakkan klub-klub pemantau penyiaran di kampus dan masyarakat umum. Ini tidak lain untuk mengajak sebanyak mungkin partisipasi masyarakat dalam dunia penyiaran di Indonesia.

Untuk itu, menonton berita tidak bisa menelan mentah-mentah straight news yang terpampang di layar. Karena bisa jadi berita tersebut sudah dimanipulasi, seperti gambaran di Amerika Serikat tersebut. Beritanya memang tidak berbohong, tentang bahaya kelaparan. Tetapi ilustasi gambarnya menggunakan bayi yang memang lahir prematur, bukan karena kelaparan. Itu di Amerika yang menjunjung tinggi hak-hal pribadi seseorang. Beritanya tidak bohong, yang berbohong adalah gambar yang ditampilkan di layar. Dan yang bohong inilah yang celakanya ditafsirkan secara sederhana oleh pemirsanya.

Akhirnya, berita televisi dengan budaya audio visualnya tetap harus memajukan moralitas. Jangan sampai hanya untuk kepentingan politik, bisnis, dan kedudukan sosial tertentu berita televisi dimanfaatkan oleh sekelompok tertentu untuk kepentingan pribadi atau golongan. Nurani dan moralitas para reporter televisi tetap harus dijunjung tinggi. Dan kontribusi video amatir bisa menjadi penyeimbang. Agar konsumsi berita yang dinikmati masyarakat tetap dalam koridor realitas kebenaran. Bukankah berita tetap masih menjadi ratu dunia?***

Penulis, Pengajar Jurnalistik Fikom Unisba.


No comments: