DUA anak lelaki itu tinggal di kawasan perumahan kumuh yang kerap disebut sebagai rumah kardus, sebab rumahnya terbuat dari kardus bekas, atau yang terbaik berdinding tripleks. Seperti umumnya anak-anak kalangan bawah, mereka tak bersekolah dan harus membantu orangtua mencari nafkah penyambung hidup.
Dua di antara entah berapa banyak anak di rumah kardus itu adalah Aji (diperankan Jourast Jordy) dan Ipul (Evian Jordi). Mereka kerap disebut sebagai anak jalanan. Kalau dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membaca berita adanya pekerja sosial yang berusaha memberi bantuan kepada anak-anak itu, dalam sinetron Rumah Kardus yang ditayangkan SCTV tak muncul pekerja sosial itu.
Aji dan Ipul mendapatkan uang dengan bekerja sebagai penyemir sepatu dan pemulung. Dunia kalangan bawah memang tak mengenal usia. Tak beda dengan orang dewasa seperti pedagang kaki lima dan asongan, Aji dan Ipul juga mengalami dipalak, membayar upeti untuk preman, dan menerima bentakan dari petugas keamanan.
Pengalaman dua anak seperti dituturkan dalam Rumah Kardus itu memberikan alternatif tontonan di tengah banyaknya judul sinetron remaja. Sebagai sebuah tontonan alternatif, "semestinya" Rumah Kardus bisa menyedot pemirsa yang diasumsikan mulai jenuh dengan sinetron remaja. Namun, kalau dilihat dari rating, asumsi itu sungguh bertolak belakang dengan hasilnya, hanya satu digit. Sedangkan sinetron remaja yang bergelimang wajah cantik dan ganteng bisa mengantongi dua digit.
Menurut data SCTV, Rumah Kardus tak masuk dalam 10 sinetron teratas yang ditonton pemirsa SCTV. Lima sinetron SCTV yang paling banyak ditonton pemirsa adalah sinetron remaja dengan wajah pemeran dan kehidupan yang menawan, tak kekurangan uang. Sebut misalnya Jangan Berhenti Mencintaiku, Ada Apa Denganmu, dan Disini Ada Setan.
Nasib yang dialami Rumah Kardus kini tampaknya tak berbeda dengan sinetron Keluarga Cemara Kembali ke Asal yang pernah ditayangkan TV7. Hal sama terjadi pada film cerita televisi terbaik peraih Vidia pada Festival Film Indonesia 2004, Sendal Bolong untuk Hamdhani yang ditayangkan SCTV.
Sendal Bolong untuk Hamdhani ide ceritanya berdasarkan kisah nyata seorang buruh yang masuk bui gara-gara memakai sandal bolong di tempat kerja. Sandal bolong hanyalah "kambing hitam", namun yang meresahkan penguasa justru keberanian Hamdhani mengajak teman-teman buruhnya menuntut hak mereka.
Sama dengan Rumah Kardus, kisah dan kemasan Sendal Bolong untuk Hamdhani juga realistis, tak jauh berbeda dengan kenyataan sehari-hari di negeri ini. Orang dengan mudah tersulut pada urusan keutuhan kesatuan Indonesia lewat Ambalat, namun nasib kaum terpinggirkan yang berada di depan mata seperti yang ditampilkan Sendal Bolong untuk Hamdhani dan Rumah Kardus misalnya, tidaklah "semeriah" Ambalat.
TIDAK tertariknya pemirsa secara umum pada tontonan alternatif tersebut bukan hal baru. Bisa dikatakan tak ada perubahan pada selera pemirsa- kalau melihat hasil rating-suka hal-hal yang gemebyar, semua serba cantik, indah, dan mudah dicapai.
Sentot Sahid, produser Rumah Kardus, mengatakan, mereka sengaja menampilkan kisah yang merupakan "tamparan" dari dunia hiburan yang penuh mimpi. Ini memang tontonan alternatif bagi pemirsa.
"Saya memilih latar belakang kehidupan di rumah kardus karena tak mau tanggung-tanggung. Di sini pesan yang ingin disampaikan langsung terlihat. Makanya, saya membuat yang ekstrem sekalian, kehidupan orang bawah yang hidupnya terpojok di pinggiran. Tetapi mereka toh mesti survive. Di sini ada message yang universal, bisa terjadi pada siapa pun," ujarnya.
Sedangkan Raam Punjabi, produser Sendal Bolong untuk Hamdhani, menyebutkan film itu dibuat untuk memberi alternatif yang diharapkan bisa menyentuh nurani pemirsa. "Kami ingin menampilkan betapa keadilan dan hukum itu sangat tidak berpihak kepada orang kecil. Seharusnya kita tersentuh dengan hal itu," ucap Raam yang juga banyak menghasilkan sinetron dengan tema cerita "impian".
Diakuinya, kesediaan SCTV menayangkan Sendal Bolong untuk Hamdhani sudah membuatnya terhibur meski tak mampu mendongkrak rating. "Kalau kita mau adu argumentasi dengan pengelola stasiun televisi, tak ada habis-habisnya. Saya sudah membawa Sendal Bolong untuk Hamdhani ke beberapa stasiun televisi lainnya, dan mereka tidak bersedia," cetus Raam.
Budi Darmawan, Manajer Humas SCTV, menambahkan, baik Sendal Bolong untuk Hamdhani maupun Rumah Kardus mengandung muatan moral cerita yang pantas untuk ditonton. "Di atas kertas seharusnya pemirsa menyukainya karena cerita yang ditampilkan adalah kenyataan hidup sehari-hari, hal yang dekat dengan kehidupan kita. Akting dan kemasannya pun tidak jelek," katanya.
Lalu, mengapa sebagian besar pemirsa masih "alergi" terhadap tontonan yang menampilkan kenyataan hidup kita?
Budi menyebutkan salah satunya karena kurang "bunga-bunga", alias kehidupan orang miskin itu dieksploitasi sedemikian rupa sehingga tak sedikit pun muncul hal yang optimistis. Sebenarnya sama dengan sinetron pembawa mimpi, seperti karakter orang kaya nyaris selalu identik dengan kesombongan, sedang orang miskin harus menderita terus-menerus, selalu merasa kekurangan lahir batin.
Bagaimanapun, pemirsa berharap mendapat hiburan dari televisi. Hiburan itu bisa diperoleh antara lain lewat memandangi wajah cantik dan ganteng, serta cerita yang mengandung optimisme. Apalagi dalam Rumah Kardus misalnya, masih ada sosok sang Paman, lelaki tua yang suka bercerita tentang perannya dalam masa perang. Maka, kesan menggurui tak terelakkan.
Padahal, seperti kata Raam, pemirsa paling tidak suka kalau digurui. Mereka adalah guru dan penilai itu sendiri. Salah satu "resep" suksesnya adalah memberi pesan pada pemirsa, namun tidak frontal. "Hal yang penting bagi pemirsa adalah apakah karakter-karakter dalam sinetron itu pas, sesuai dengan imajinasi mereka, dan cerita yang benar-benar menghibur," tutur Raam yang antara lain memproduksi Si Cecep, Julia Jadi Anak Gedongan, dan Gadis Korek Api yang akan tayang mulai tanggal 16 Maret nanti.
Pada tontonan seperti Sendal Bolong untuk Hamdhani, realitas hidup yang ditampilkan memang membuat sebagian pemirsa tersentuh. Namun, mayoritas pemirsa pencari hiburan tak meliriknya. Realitas hidup tidak dianggap sebagai hiburan. Dunia hiburan televisi itu adalah bagaimana meyakinkan pemirsa, bukan yang melulu menampilkan realitas hidup. (DHF/CP)
No comments:
Post a Comment