Pada hari Kamis, 30 Des.2004, dua pesawat Cessna milik pengusaha ikan
Susi Pudjiastuti berhasil mendarat di landasan udara Meulaboh. Pilot
memanfaatkan jalur sempit sepanjang 500 meter untuk mendaratkan
pesawatnya, karena landasan ini retak-retak akibat gempa.
Kedua pesawat ini membawa bantuan dari TransTV, berupa bahan pangan,
obat-obatan dan pakaian. Selama hari Kamis, kedua pesawat bolak-balik
Medan-Meulaboh sebanyak tiga kali. Masing-masing pesawat sanggup
membawa satu ton muatan bantuan setiap kali terbang.
Pada hari Jum'at, 31 Des.2004, saya dan tim Kupas Tuntas, ikut dalam
salah satu pesawat agar kami bisa membuat laporan tentang kondisi
Meulaboh.
Kami menjelajahi kota Meulaboh dengan kendaraan dari perkebunan milik
Sucofindo. Gedung dan fasilitas milik perkebunan ini relatif utuh,
nyaris tidak tampak tanda-tanda pernah terguncang gempa. Jaraknya
memang cukup jauh dari pantai.
Sejauh yang bisa kami saksikan, pusat-pusat keramaian seperti taman
kota, serta jalan Teuku Umar yang merupakan jalur niaga, luluh lantak.
Jalanan tertutup reruntuhan bangunan, bangkai-bangkai kendaraan dan
lumpur.
Bau menyengat mengambang di udara karena masih banyak mayat yang bisa
dimakamkan. Di sepanjang jalan, mayat-mayat masih berserakan. Penduduk
setempat yakin mayat-mayat juga masih banyak di dalam rumah-rumah toko
di sepanjang jalan Teuku Umar.
Ada sejumlah perkiraan tentang jumlah korban di Meulaboh. Taksiran
yang sering muncul di media massa menyebutkan angka 50 ribu korban
tewas. Tapi Bupati Meulaboh mengatakan sekitar 80 persen penduduknya
tewas. Berdasarkan sensus penduduk terakhir pada tahun 2002, penduduk
Meulaboh tercatat berjumlah 188 ribu orang. Dengan demikian, taksiran
Bupati menghasilkan angka lebih dari 150 ribu korban tewas.
Satuan-satuan TNI berusaha sebisa mungkin membersihkan jalan dari
reruntuhan dan mengangkat mayat-mayat. Tapi ketiadaan alat berat
membatasi kerja mereka.
Komandan Kodim setempat meminta kami menghubungi dulu Komandan Korem
Kolonel TNI Gerhard Lantara sebelum meneruskan liputan. Dia sempat
bercerita tentang bagaimana ia menangkap dan mendeportasi seorang
wartawan asing yang datang tanpa surat izin. Ketika saya mengatakan
bahwa pemerintah sudah membebaskan wartawan asing untuk masuk ke Aceh,
sang komandan kodim hanya mengatakan pembebasan izin hanya berlaku di
Banda Aceh dan Sabang.
Penduduk yang selamat mencoba bertahan dengan apapun yang mereka
punya. Beberapa kali saya menyaksikan pesawat TNI menjatuhkan
kotak-kotak mie kering. Tapi beberapa penduduk mengeluh karena mie-nya
hancur dan mereka tak kuat terus-menerus makan mie. Salah satu
pengungsi mengaku memberi makan anaknya yang baru berusia empat bulan
hanya dengan pisang selama lima hari berturut-turut.
Bantuan juga datang dari kabupaten-kabupaten sekitar Meulaboh, tapi
tak banyak. Ada juga bantuan yang datang melalui landasan udara Blang
Pidie, 60 kilometer dari Meulaboh. Tapi karena jalur darat antara
kedua tempat ini rusak, tak banyak bantuan yang bisa mencapai para
korban yang selamat. Saat Alfian Hamzah, dari kantor berita Pena,
menghubungi saya untuk mencari tahu jalur masuk ke Meulaboh, saya
menyarankannya untuk naik pesawat carteran milik perusahaan SMAC dan
mendarat di Blang Pidie untuk kemudian meneruskan perjalanan darat ke
Meulaboh.
Semua bantuan, termasuk dari TransTV, dikoordinasikan melalui Korem
dan kemudian didistribusikan ke tempat-tempat pengungsian. Kami sempat
mengunjungi tiga tempat pengungsian dan menyaksikan para pengungsi
makan mie serta minum dari sumber air yang tidak higienis. Mereka
datang dari berbagai tempat di sekitar Meulaboh. Beberapa diantara
mereka mengatakan di desa-desa mereka, mayat masih bergelantungan di
pepohonan.
Sejauh yang bisa saya lihat dan keterangan yang saya dapat dari para
pengungsi, boleh dibilang tidak ada lembaga-lembaga bantuan yang
beroperasi di Meulaboh.
Sarana komunikasi pun terputus. Satu-satunya telepon satelit dimiliki
oleh perkebunan Sucofindo, tapi komunikasinya tak selalu mulus.
Pada hari Sabtu, 1 Jan.2004, saya menyaksikan sejumlah petugas PLN
terbang ke Meulaboh menggunakan pesawat milik Susi. Mereka membawa
serta sejumlah peralatan untuk berupaya memulihkan listrik bagi
Meulaboh.
Kota ini hancur. Situasinya lebih buruk daripada Banda Aceh. Isolasi
selama lima hari pertama membuat situasi kota ini bertambah buruk.
Tanpa penanganan yang segera, bencana wabah penyakit akan mengancam
para pengungsi.
Saya masih tak habis pikir mengapa bantuan pemerintah begitu lambat
datang? Saat saya meninggalkan perkebunan Sucofindo, saya berpapasan
dengan Menteri Hatta Radjasa dan Menteri Negara BUMN. Mereka datang
menggunakan helikopter, lima hari setelah Meulaboh dihantam bencana.
Presiden Yudhoyono datang esok harinya, juga dengan helikopter dari
Banda Aceh.
Saya sertakan beberapa foto yang sempat saya buat saat di Meulaboh.
Wassalam
Tomi Satryatomo
This is my personal notes on my journey through my life..
Tuesday, January 11, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment